Kamis, 29 Mei 2014

PENCURIAN KAYU JATI RATUSAN TAHUN

Rabu, 28 Mei 2014

POHON TERMAHAL

KUDUS, KOMPAS - Pohon jati di petak 1.092 A Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Temengeng,  Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Pasar Sore, Kesatuan Pemangkuan Hutan atau KPH Perum Perhutani Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dijual dengan harga Rp 1 miliar. Pohon itu menjadi kayu termahal di dunia.



Tinggi pohon Tectona grandis berusia 150 tahun itu sekitar 35 meter, berdiameter 3 meter, dengan keliling batang 6,9 meter.

Selama ini, Perhutani menjual jati dengan kisaran harga Rp 100 juta–Rp 200 juta per pohon dengan asumsi, harga per meter kubik kayu jati kualitas terbaik Rp 15 juta. Oleh karena itu, penjualan tersebut tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri) pada 10 Agustus 2007.

Piagam penghargaan dari Muri itu akan diserahkan Direktur Muri Jaya Suprana kepada Direktur Utama Perum Perhutani Transtoto Handadhari dalam acara penebangan pohon jati tersebut, 23 Agustus 2007.

"Pohon jati itu sudah mati sejak Mei 2006 karena disambar petir sehingga kalau tidak segera ditebang

akan rusak. Semula, ada yang mau membeli Rp 250 juta sesuai kubikasi. Kemudian ada pencinta pohon tua dari Jawa Timur, Pak Boby Wibowo, menawar Rp 500 juta. Kami coba menawar Rp 1 miliar, dia setuju," kata Transtoto, Selasa (21/8).

Perjanjian jual beli pohon yang dinamakan Jati Wibowo itu sudah ditandatangani di Jakarta pada 31 Juli 2007. Boby adalah pengusaha perkayuan asal Ngawi, Jatim. Menurut dia, pohon jati itu akan diproses menjadi aneka produk mebel berkonsep natural. Pesanan sudah datang dari sejumlah pembeli di Belanda dan Jerman.

Dengan volume sekitar 24 meter kubik–30 meter kubik, pohon bisa menghasilkan puluhan unit mebel berkualitas tinggi.

Perhutani KPH Cepu mencatat, semula terdapat ratusan pohon jati berusia rata-rata di atas 100 tahun dengan kualitas nomor satu di petak 1.092 A. Puluhan di antaranya dijarah massa.

Namun, sebagian besar jati di petak 1.092 A dapat diselamatkan. Petak itu ditetapkan sebagai Monumen Hutan Jati Alam sejak 1975 dan dijadikan kawasan wisata bernama Gubug Payung.

Pohon jati raksasa juga ditemukan di Padangan, Gundih, Purwodadi, Kabupaten Grobogan, dan Donoloyo di Solo. Namun, populasinya tinggal beberapa puluh dengan diameter sekitar dua meter.

Luas hutan jati di Jawa tercatat 1.240.558 hektar atau sekitar 51,73 persen dari total luas kawasan hutan milik Perum Perhutani. Namun, yang produktif tinggal 494.813 hektar. Sebagian besar areal itu ada di wilayah Perum Perhutani Unit II Jawa Timur (252.938 hektar), unit I Jawa Tengah (166.095 hektar), dan unit III Jawa Barat-Banten (78.880 hektar). (SUP/IKA

KAYU JATI KUWALITAS TERBAIK

Wow, kayu jati asal Indonesia diakui terbaik sedunia

Online: Rabu, 13 Maret 2013 | 06:51 wib ET
JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia masih menjadi salah satu penghasil kayu jati di pasar internasional. Bahkan, sejumlah industri pengolahan di beberapa negara mengakui bahwa kualitas kayu jati asal Indonesia merupakan yang terbaik sejagat.
Hanya saja, banyak eksportir nakal yang mengirim kayu jati kelas nomor wahid secara gelondongan ke luar negeri. Selain ilegal, tindakan itu merugikan pengrajin di Tanah Air yang mencari bahan baku jati berkualitas.
Staf perusahaan Mirota Furniture Yogyakarta, Ninik mengakui, kayu jati yang beredar di pasaran dalam negeri tidak terlalu bagus.
"Ini kritik saya, yang di pasaran adanya jati grade B atau AB, kalau jati kualitas A sudah dieskpor ke luar negeri, padahal itu kan ilegal," ujarnya di sela Pameran International Furniture & Craft Fair Indonesia, di Kemayoran, Selasa (12/3/2013).
Para pengusaha yakin jika kayu jati kualitas utama tersedia, produk-produk mereka bisa lebih laris di pasaran Eropa. "Beberapa furnitur itu tidak mungkin pakai kayu lain, karena hanya jati grade A yang bisa bertahan di negara empat cuaca," kata Ninik.
Saat ini di pasaran jati grade A rata-rata dijual Rp 10 juta per batang. Sementara grade B dan C yang jadi bagian para pengrajin dijual di kisaran Rp 5-7 juta. Keluhan serupa soal kelangkaan jati bermutu disuarakan oleh Uswanto dari CV Indoantika, Jepara, Jawa Tengah.
Dia sempat mencoba jati asal negara lain tapi rupanya kualitasnya masih kalah dengan jati grade A asal Indonesia. "Kayu jati kita is the best, sempat coba jati dari Burma, tapi masih kalah," ungkapnya.
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengakui perlunya menjaga jati grade A agar tidak mudah diekspor ke luar negeri. Ekspor gelondongan marak sebab saat ini kayu jati lebih cepat dipanen dengan harga jual tidak kalah dari yang sudah ditanam puluhan tahun lebih lama.
"Jati kita dulu 60 tahun baru bisa dipanen, sekarang 20 tahun sudah bisa," ungkapnya.
Terkait maraknya penjualan jati gelondongan ke luar negeri, seperti kayu-kayu hutan lestari lainnya, Zulkifli menilai solusinya adalah menertibkan eksportir. Khususnya melalui Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK).
"Kita harus perangi pembalakan liar dan ini tidak fair. Kita sudah sepakat penjualan kayu internasional harus sepakat untuk mempunyai sertifikasi legalitas kayu. Pemerintah Indonesia mengharuskan adanya sertifikasi legal dari mulai pencabutan hingga pengolahan yang dimulai Januari 2013," katanya. kbc10

Kamis, 22 Mei 2014

KAYU JATI TERMAHAL "SEKILAS INFO"

POHON JATI 1 MILYAR

Kabar mengejutkan datang dari Kabupaten Blora Jawa Tengah tepatnya KPH Perum Perhutani Cepu, bahwa pohon jati yang terletak di petak 1.092 A Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Temengeng, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Pasar Sore, dijualdengan harga Rp. 1 Milyar.
Sehingga pohon tersebut menjadi kayu termahal didunia.
Pohon yang memiliki nama latin Tectona grandis itu diperkirakan telah berusia 150 tahun. Memiliki ketinggian hingga 42 meter, diameter 3m, dengan keliling batang hingga 6,9 meter.
Sejatinya, Perum Perhutani menjual jati pada harga mulai Rp. 100juta-200juta per pohon. Yang diasumsikan bahwa harga per meter kubiknya dengan kualitas terbaik Rp. 15juta.
Penjualan fantastis diatas menjadikan transaksi penjualan jati termahal yang masuk dalam Museum Rekor Indonesia ( Muri ) pada tanggal 10 Agustus 2007.
Pohon jati tersebut dijual karena sudah mati sejak Mei 2006 akibat disambar petir. Sehingga kalau tidak segera ditebang akan rusak. Pada awalnya, ada yang mau membeli seharga Rp 250juta sesuai dengan kubikasi. Kemudian ada pencinta pohon tua bernama Boby Wibowo menawar seharga Rp. 500 juta, namun ketika pihak dari perhutani mencoba menawar 1 Miliar Pak Boby nya menyetujui dengan harga tersebut. Jadilah pohon jati tersebut terjual Rp 1 Miliar. Harga yang luar biasa bukan?.
Berikut data lengkapnya :
Pembeli  :  Boby Wibowo dan Saekoni
Mediator  :  Arini Ambarwati Wibowo
Pelunasan  :  13 September 2007
Transaksi   :  Lelang Khusus
Harga Awal  :  Rp.250 Juta
Pemilik Asli  :  Perum Perhutani
Volume batang :  Taksasi produksi kayu 62,213 m3
Nomor Pohon  :  1130 dari 1766 pohon
Umur pohon   :  150 tahun lebih
Tinggi batang  :  42,1 Meter
Lingkar Pangkal Pohon : 690 cm
Dasar perhitungan umur : Dari pohon sejenis dan satu periode tanam yang ditebang 30 tahun yang lalu membuktikan usia penampang kayu 120 tahun.
Tempat tumbuh  :  Petak hutan Nomor 1092 A
Luas Petak   :  25,4 Hektare
Kelas Hutan  :  Masak Tebang
Tingkat kesuburan tanah : Bonita 4,5
RPH        :  Temengeng
BKPH     :   Pasar Sore
KPH       :  Cepu
Alasan Penjualan     :
Pohon mati disambar petir (Laporan Bencana Alam Nomor04/TMG/IV/2006 tanggal 1 Mei 2006 ; Berita acara pemeriksaan bencana alam nomor 23/BA/SS/2007 tanggal 7 Juni 2007 oleh Tim Dinas Kehutanan Kabupaten Blora dan Perum Perhutani).
Legalitas :
Pengesahan Suplisi RTT Tebangan D2 Bencana Alam oleh Biro Perncanaan Sumber Daya hutan nomor 923.042.3/SPSDH/Can/I tanggal 7 agustus 2007.
Surat perintah tebangan D2 Bencana Alam KPH Cepu Nomor 806/053.4/PSDH/CPU/I tanggal 15 Agustus 2007.

Rabu, 21 Mei 2014

JATI LOKAL

KAYU JATI LOKAL

Kayu Jati Lokal adalah kayu bulat/ log atau kayu olahan yang berasal dari pohon jati yang tumbuh dari hasil budidaya pada lahan masyarakat atau tumbuh secara alami diatas hutan hak yang terletak diluar kawasan hutan negara. Dewasa ini orang lebih mengenal istilah kayu jati lokal dengan nama kayu jati rakyat. Secara kualitas, Kayu Jati Lokal memang masih dibawah produk Kayu Jati Perhutani yang pengelolaannya dibawah riset dan teknologi namun tetap saja diperhitungkan dalam berbagai industri dan usaha pengelolaan kayu baik untuk bahan bangunan maupun dalam bentuk hasil kerajinan seperti mebel dal lainnya. 
Kayu Jati Lokal ataupun Kayu Jati Perhutani sama-sama termasuk Kayu Jati dengan kategori kayu kelas satu yang bakal meramaikan industri pengolahan kayu didalam negeri seiring dengan pertambahan jumlah penduduk khususnya di Indonesia maka tidak diragukan lagi untuk permintaan kayu jati akan semakin meningkat.
         
Kayu jati dengan nama ilmiah Tectona grandis Linn.F merupakan salah satu jenis kayu komersial yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang tidak lekang dimakan jaman, dan orang banyak memilih kayu jati karena kwalitas dan keawetannya melebihi jenis kayu lain. Sehingga wajar jika diminati banyak orang baik dalam negeri maupun luar negeri. Dimata dunia, Indonesia termasuk negara keempat terbesar dalam penyediaan  kayu jati setelah Burma, India dan Thailand.
     
Pengelolaan atau budidaya kayu jati rakyat ini sudah diberikan hak sepenuhnya oleh pemerintah kepada masyarakat yang mau membuka lahan budidaya kayu jati lokal dengan ditetapkannya UU No.41 tahun 1999 tentang kehutanan yaitu salah satu upaya untuk memperbaiki sistem pengelolaan  hutan kayu di Indonesia. Masyarakat  diberikan kewenangan untuk memperoleh hak bahkan kewajiban yang lebih besar untuk terlibat dalam pengelolaan hutan di Indonesia.
Potensi hutan jati rakyat di Indonesia telah ada sejak awal tahun 2005 seluas 1.568.415 ha dengan potensi mencapai 39.564.000 m3 dengan jumlah pohon mencapai 226.680.000 batang dan yang siap tebang sebanyak 78.486.000 batang dan memiliki potensi produksi kayu minimal 19.621.000 m3. Potensi hutan jati rakyat  tersebut sebagian besar masih terkonsentrasi di Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Bali dan Sumatra.
Kayu jati lokal memiliki karakter atau ciri fisik tersendiri dengan spesifikasi yang tidak jauh berbeda kwalitasnya dengan kayu jati perhutani. Kami mengambil sampel kayu jati lokal Sulawesi yang sekarang lagi trend dan bagus penjualannya dipasar industri kayu di Indonesia karena dipandang harga lebih terjangkau dan mudah didapat serta memiliki kwalitas yang beragam sehingga konsumen bisa memilih jenis kayu jati yg diinginkan menyesuaikan kebutuhan.

KAYU JATI

Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau. Jati dikenal dunia dengan nama teak (bahasa Inggris). Nama ini berasal dari kata thekku (തേക്ക്) dalam bahasa Malayalam, bahasa di negara bagian Kerala di India selatan. Nama ilmiah jati adalah Tectona grandis L.f.
Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1 500 – 2 000 mm/tahun dan suhu 27 – 36 °C baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.[1] Tempat yang paling baik untuk pertumbuhan jati adalah tanah dengan pH 4.5 – 7 dan tidak dibanjiri dengan air.[2] Jati memiliki daun berbentuk elips yang lebar dan dapat mencapai 30 – 60 cm saat dewasa.[1]
Jati memiliki pertumbuhan yang lambat dengan germinasi rendah (biasanya kurang dari 50%) yang membuat proses propagasi secara alami menjadi sulit sehingga tidak cukup untuk menutupi permintaan atas kayu jati.[3] Jati biasanya diproduksi secara konvensional dengan menggunakan biji. Akan tetapi produksi bibit dengan jumlah besar dalam waktu tertentu menjadi terbatas karena adanya lapisan luar biji yang keras.[3] Beberapa alternatif telah dilakukan untuk mengatasi lapisan ini seperti merendam biji dalam air, memanaskan biji dengan api kecil atau pasir panas, serta menambahkan asam, basa, atau bakteri.[4] Akan tetapi alternatif tersebut masih belum optimal untuk menghasilkan jati dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak.[4]
Umumnya, Jati yang sedang dalam proses pembibitan rentan terhadap beberapa penyakit antara lain leaf spot disease yang disebabkan oleh Phomopsis sp., Colletotrichum gloeosporioides, Alternaria sp., dan Curvularia sp., leaf rust yang disebabkan oleh Olivea tectonea, dan powdery mildew yang disebabkan oleh Uncinula tectonae.[5] Phomopsis sp. merupakan penginfeksi paling banyak, tercatat 95% bibit terkena infeksi pada tahun 1993-1994.[5] Infeksi tersebut terjadi pada bibit yang berumur 2 – 8 bulan.[5] Karakterisasi dari infeksi ini adalah adanya necrosis berwarna coklat muda pada pinggir daun yang kemudian secara bertahap menyebar ke pelepah, infeksi kemudian menyebar ke bagian atas daun, petiol, dan ujung batang yang mengakibatkan bagian daun dari batang tersebut mengalami kekeringan.[5] Jika tidak disadari dan tidak dikontrol, infeksi dari Phomopsis sp. akan menyebar sampai ke seluruh bibit sehingga proses penanaman jati tidak bisa dilakukan. [5]

Habitus

Pohon besar dengan batang yang bulat lurus, tinggi total mencapai 40 m. Batang bebas cabang (clear bole) dapat mencapai 18-20 m. Pada hutan-hutan alam yang tidak terkelola ada pula individu jati yang berbatang bengkok-bengkok. Sementara varian jati blimbing memiliki batang yang berlekuk atau beralur dalam; dan jati pring (Jw., bambu) nampak seolah berbuku-buku seperti bambu. Kulit batang coklat kuning keabu-abuan, terpecah-pecah dangkal dalam alur memanjang batang.dan seringkali masyarakat indonesia salah mengartikan jati dengan tanaman jabon( antocephalus cadamba ) padahal mereka dari jenis yang berbeda.
Pohon jati (Tectona grandis sp.) dapat tumbuh meraksasa selama ratusan tahun dengan ketinggian 40-45 meter dan diameter 1,8-2,4 meter. Namun, pohon jati rata-rata mencapai ketinggian 9-11 meter, dengan diameter 0,9-1,5 meter.
Pohon jati yang dianggap baik adalah pohon yang bergaris lingkar besar, berbatang lurus, dan sedikit cabangnya. Kayu jati terbaik biasanya berasal dari pohon yang berumur lebih daripada 80 tahun.
Daun umumnya besar, bulat telur terbalik, berhadapan, dengan tangkai yang sangat pendek. Daun pada anakan pohon berukuran besar, sekitar 60-70 cm × 80-100 cm; sedangkan pada pohon tua menyusut menjadi sekitar 15 × 20 cm. Berbulu halus dan mempunyai rambut kelenjar di permukaan bawahnya. Daun yang muda berwarna kemerahan dan mengeluarkan getah berwarna merah darah apabila diremas. Ranting yang muda berpenampang segi empat, dan berbonggol di buku-bukunya.
Bunga majemuk terletak dalam malai besar, 40 cm × 40 cm atau lebih besar, berisi ratusan kuntum bunga tersusun dalam anak payung menggarpu dan terletak di ujung ranting; jauh di puncak tajuk pohon. Taju mahkota 6-7 buah, keputih-putihan, 8 mm. Berumah satu.
Buah berbentuk bulat agak gepeng, 0,5 – 2,5 cm, berambut kasar dengan inti tebal, berbiji 2-4, tetapi umumnya hanya satu yang tumbuh. Buah tersungkup oleh perbesaran kelopak bunga yang melembung menyerupai balon kecil. Nilai Rf pada daun jati sendiri sebesar 0,58-0,63.

Sifat ekologis dan penyebaran

Tectona grandis
Jati menyebar luas mulai dari India, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, Indochina, sampai ke Jawa. Jati tumbuh di hutan-hutan gugur, yang menggugurkan daun di musim kemarau.
Menurut sejumlah ahli botani, jati merupakan spesies asli di Burma, yang kemudian menyebar ke Semenanjung India, Thailand, Filipina, dan Jawa. Sebagian ahli botani lain menganggap jati adalah spesies asli di Burma, India, Muangthai, dan Laos.
Sekitar 70% kebutuhan jati dunia pada saat ini dipasok oleh Burma. Sisa kebutuhan itu dipasok oleh India, Thailand, Jawa, Srilangka, dan Vietnam. Namun, pasokan dunia dari hutan jati alami satu-satunya berasal dari Burma. Di Afrika dan Karibia juga banyak dipelihara.
Jati paling banyak tersebar di Asia. Selain di keempat negara asal jati dan Indonesia, jati dikembangkan sebagai hutan tanaman di Srilangka (sejak 1680), Tiongkok (awal abad ke-19), Bangladesh (1871), Vietnam (awal abad ke-20), dan Malaysia (1909).
Iklim yang cocok adalah yang memiliki musim kering yang nyata, namun tidak terlalu panjang, dengan curah hujan antara 1200-3000 mm pertahun dan dengan intensitas cahaya yang cukup tinggi sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang optimal adalah antara 0 – 700 m dpl; meski jati bisa tumbuh hingga 1300 m dpl.
Tegakan jati sering terlihat seperti hutan sejenis, yaitu hutan yang seakan-akan hanya terdiri dari satu jenis pohon.
Ini dapat terjadi di daerah beriklim muson yang begitu kering, kebakaran lahan mudah terjadi dan sebagian besar jenis pohon akan mati pada saat itu. Tidak demikian dengan jati. Pohon jati termasuk spesies pionir yang tahan kebakaran karena kulit kayunya tebal. Lagipula, buah jati mempunyai kulit tebal dan tempurung yang keras. Sampai batas-batas tertentu, jika terbakar, lembaga biji jati tidak rusak. Kerusakan tempurung biji jati justru memudahkan tunas jati untuk keluar pada saat musim hujan tiba.
Guguran daun lebar dan rerantingan jati yang menutupi tanah melapuk secara lambat, sehingga menyulitkan tumbuhan lain berkembang. Guguran itu juga mendapat bahan bakar yang dapat memicu kebakaran —yang dapat dilalui oleh jati tetapi tidak oleh banyak jenis pohon lain. Demikianlah, kebakaran hutan yang tidak terlalu besar justru mengakibatkan proses pemurnian tegakan jati: biji jati terdorong untuk berkecambah, pada saat jenis-jenis pohon lain mati.
Tanah yang sesuai adalah yang agak basa, dengan pH antara 6-8, sarang (memiliki aerasi yang baik), mengandung cukup banyak kapur (Ca, calcium) dan fosfor (P). Jati tidak tahan tergenang air.
Pada masa lalu, jati sempat dianggap sebagai jenis asing yang dimasukkan (diintroduksi) ke Jawa; ditanam oleh orang-orang Hindu ribuan tahun yang lalu. Namun pengujian variasi isozyme yang dilakukan oleh Kertadikara (1994) menunjukkan bahwa jati di Jawa telah berevolusi sejak puluhan hingga ratusan ribu tahun yang silam (Mahfudz dkk., t.t. ).
Karena nilai kayunya, jati kini juga dikembangkan di luar daerah penyebaran alaminya. Di Afrika tropis, Amerika tengah, Australia, Selandia Baru, Pasifik dan Taiwan.

Sebaran hutan jati di Indonesia

Di Indonesia sendiri, selain di Jawa dan Muna, jati juga dikembangkan di Bali dan Nusa Tenggara.
Dalam beberapa tahun terakhir, ada upaya untuk mengembangkan jati di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Hasilnya kurang menggembirakan. Jati mati setelah berusia dua atau tiga tahun. Masalahnya, tanah di kedua tempat ini sangat asam. Jati sendiri adalah jenis yang membutuhkan zat kalsium dalam jumlah besar, juga zat fosfor. Selain itu, jati membutuhkan cahaya matahari yang berlimpah.
Sekarang, di luar Jawa, kita dapat menemukan hutan jati secara terbatas di beberapa tempat di Pulau Sulawesi, Pulau Muna, daerah Bima di Pulau Sumbawa, dan Pulau Buru. Jati berkembang juga di daerah Lampung di Pulau Sumatera.
Pada 1817, Raffles mencatat jika hutan jati tidak ditemukan di Semenanjung Malaya atau Sumatera atau pulau-pulau berdekatan. Jati hanya tumbuh subur di Jawa dan sejumlah pulau kecil di sebelah timurnya, yaitu Madura, Bali, dan Sumbawa. Perbukitan di bagian timur laut Bima di Sumbawa penuh tertutup oleh jati pada saat itu.
Heyne, pada 1671, mencatat keberadaan jati di Sulawesi, walau hanya di beberapa titik di bagian timur. Ada sekitar 7.000 ha di Pulau Muna dan 1.000 ha di pedalaman Pulau Butung di Teluk Sampolawa. Heyne menduga jati sesungguhnya terdapat pula di Pulau Kabaena, serta di Rumbia dan Poleang, di Sulawesi Tenggara. Analisis DNA mutakhir memperlihatkan bahwa jati di Sulawesi Tenggara merupakan cabang perkembangan jati jawa.
Jati yang tumbuh di Sulawesi Selatan baru ditanam pada masa 1960an dan 1970an. Ketika itu, banyak lahan di Billa, Soppeng, Bone, Sidrap, dan Enrekang sedang dihutankan kembali. Di Billa, pertumbuhan pohon jatinya saat ini tidak kalah dengan yang ada di Pulau Jawa. Garis tengah batangnya dapat melebihi 30 cm.

Daerah sebaran hutan jati di Jawa

Sedini 1927, hutan jati tercatat menyebar di pantai utara Jawa, mulai dari Kerawang hingga ke ujung timur pulau ini. Namun, hutan jati paling banyak menyebar di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu sampai ketinggian 650 meter di atas permukaan laut. Hanya di daerah Besuki jati tumbuh tidak lebih daripada 200 meter di atas permukaan laut.
Di kedua provinsi ini, hutan jati sering terbentuk secara alami akibat iklim muson yang menimbulkan kebakaran hutan secara berkala. Hutan jati yang cukup luas di Jawa terpusat di daerah alas roban Rembang, Blora, Groboragan, dan Pati. Bahkan, jati jawa dengan mutu terbaik dihasilkan di daerah tanah perkapuran Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Saat ini, sebagian besar lahan hutan jati di Jawa dikelola oleh Perhutani, sebuah perusahaan umum milik negara di bidang kehutanan. Pada 2003, luas lahan hutan Perhutani mencapai hampir seperempat luas Pulau Jawa. Luas lahan hutan jati Perhutani di Jawa mencapai sekitar 1,5 juta hektare. Ini nyaris setara dengan setengah luas lahan hutan Perhutani atau sekitar 11% luas Pulau Jawa dwipa.

Sifat-sifat kayu dan pengerjaan

Kayu jati merupakan kayu kelas satu karena kekuatan, keawetan dan keindahannya. Secara teknis, kayu jati memiliki kelas kekuatan I dan kelas keawetan I. Kayu ini sangat tahan terhadap serangan rayap.
Kayu teras jati berwarna coklat muda, coklat kelabu hingga coklat merah tua. Kayu gubal, di bagian luar, berwarna putih dan kelabu kekuningan.
Meskipun keras dan kuat, kayu jati mudah dipotong dan dikerjakan, sehingga disukai untuk membuat furniture dan ukir-ukiran. Kayu yang diampelas halus memiliki permukaan yang licin dan seperti berminyak. Pola-pola lingkaran tahun pada kayu teras nampak jelas, sehingga menghasilkan gambaran yang indah.
Dengan kehalusan tekstur dan keindahan warna kayunya, jati digolongkan sebagai kayu mewah. Oleh karena itu, jati banyak diolah menjadi mebel taman, mebel interior, kerajinan, panel, dan anak tangga yang berkelas.
Sekalipun relatif mudah diolah, jati terkenal sangat kuat dan awet, serta tidak mudah berubah bentuk oleh perubahan cuaca. Atas alasan itulah, kayu jati digunakan juga sebagai bahan dok pelabuhan, bantalan rel, jembatan, kapal niaga, dan kapal perang. Tukang kayu di Eropa pada abad ke-19 konon meminta upah tambahan jika harus mengolah jati. Ini karena kayu jati sedemikian keras hingga mampu menumpulkan perkakas dan menyita tenaga mereka. Manual kelautan Inggris bahkan menyarankan untuk menghindari kapal jung Tiongkok yang terbuat dari jati karena dapat merusak baja kapal marinir Inggris jika berbenturan.
Pada abad ke-17, tercatat jika masyarakat Sulawesi Selatan menggunakan akar jati sebagai penghasil pewarna kuning dan kuning coklat alami untuk barang anyaman mereka. Di Jawa Timur, masyarakat Pulau Bawean menyeduh daun jati untuk menghasilkan bahan pewarna coklat merah alami. Orang Lamongan memilih menyeduh tumbukan daun mudanya. Sementara itu, orang Pulau Madura mencampurkan tumbukan daun jati dengan asam jawa. Pada masa itu, pengidap penyakit kolera pun dianjurkan untuk meminum seduhan kayu dan daun jati yang pahit sebagai penawar sakit.
Jati burma sedikit lebih kuat dibandingkan jati jawa. Namun, di Indonesia sendiri, jati jawa menjadi primadona. Tekstur jati jawa lebih halus dan kayunya lebih kuat dibandingkan jati dari daerah lain di negeri ini. Produk-produk ekspor yang disebut berbahan java teak (jati jawa, khususnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur) sangat terkenal dan diburu oleh para kolektor di luar negeri.
Menurut sifat-sifat kayunya, di Jawa orang mengenal beberapa jenis jati (Mahfudz dkk., t.t.):
  1. Jati lengo atau jati malam, memiliki kayu yang keras, berat, terasa halus bila diraba dan seperti mengandung minyak (Jw.: lengo, minyak; malam, lilin). Berwarna gelap, banyak berbercak dan bergaris.
  2. Jati sungu. Hitam, padat dan berat (Jw.: sungu, tanduk).
  3. Jati werut, dengan kayu yang keras dan serat berombak.
  4. Jati doreng, berkayu sangat keras dengan warna loreng-loreng hitam menyala, sangat indah.
  5. Jati kembang.
  6. Jati kapur, kayunya berwarna keputih-putihan karena mengandung banyak kapur. Kurang kuat dan kurang awet.

STOK KAYU


A1 4.2136 20.6202%
A2 13.7352 67.2166%
A3 2.4855 12.1632%

20.4343 100.0000%